8 April 2013

Keluarga Santriwati Pukul Guru Dayah Serambi Mekah

Share This
Tags

* Tak Terima Anaknya Dipukul dan Dimandikan Air Comberan

Tgk. Muhib mengalami luka serius setelah dihantam dengan balok oleh keluarga santriwati yang kedapatan Hp didayah serambi mekah, Meulaboh, Aceh Barat(07/04). kini masalah tersebut dalam pemerikasaan polisi Aceh Barat

Santri Dayah.Com, Meulaboh- Dayah Serambi Mekkah, Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Minggu (7/4) sore sekitar jam 17 WIB, dihebohkan dengan peristiwa mengamuknya sejumlah keluarga santriwati asal Nagan Raya.

Mereka marah besar dan menganiaya seorang guru di dayah tersebut, Tgk Muhibbul Nasir Waly yang juga putra kandung Alm. Abuya Muhammad Nasir Waly Lc (Pendiri dayah Serambi Mekah), menyusul laporan tentang putrinya yang dipukul dan dimandikan air comberan.

Informasi yang didapati Majalah Santri Dayah ari berbagai pihak, aksi penyerangan itu terjadi berawal dari pengaduan santriwati kepada orang tuanya yang kebetulan pada Minggu kemarin datang menjenguk. Beberapa santriwati mengaku dipukul serta dimandikan air comberan karena dituduh terlibat pacaran. Keseluruhan ada 15 santriwati yang mendapat hukuman tersebut.

Tak terima atas perlakuan itu, para keluarga mengamuk dan marah besar. Mereka menilai tindakan melakukan pemberian hukuman seperti itu tidak pantas dilakukan oleh seorang teungku, apalagi di dayah.

Keluarga santriwati yang terus berdatangan mendapatkan informasi tersebut langsung mengamuk dan mencoba masuk ke dalam lokasi dayah. Para warga yang merupakan kaum laki-laki ini mencoba mencari tahu ustaz yang bernama Tgk Muhib. ari informasi yang Majalah Santri Dayah terima ada sekitar 3 unit mobil masuk kekomplek dayah serambi mekah.

Setelah bertemu, anggota keluarga santri tak mampu mengendalikan emosi dan langsung menyerang  Tgk. Muhib. Meski sudah berupaya menyelamatkan diri, namun guru pengajian ini tetap saja menjadi sasaran warga yang marah dan mengejar korban menggunakan kayu balok. dalam penuturan Santri, Tgk. Muhib dihajar dengan balok yang telah dipaku paa balok tersebut dan mengalami luka berdarah dikepala, muka dan badan.

Disebut-sebut, sebelum penyerangan terjadi, Tgk Muhib sempat melontarkan kata-kata yang membuat keluarga santriwati marah. Sehingga mereka mengamuk saat hendak meminta pertanggungjawaban terhadap persoalan tersebut.

Setelah diamuk dan diwarnai tangis serta histeris santriwati dan warga yang melihat, Tgk Muhib berhasil diselamatkan dengan kondisi wajah yang penuh lumuran darah dan mengalami luka parah dibagian matanya. Bahkan baju korban juga dipenuhi darah.

Sementara keluarga santriwati yang mengamuk sempat mengancam akan membakar dayah apabila persoalan itu tak secepatnya diselesaikan. Sedangkan korban langsung diamankan pihak keluarga karena sudah mengalami luka.

Kapolres Aceh Barat AKBP Faisal Rivai SIK melalui Kasat Reskrim Iptu M Riyan Citra Yudha yang dikonfirmasi salah satu media Aceh, mengaku telah melakukan pengusutan terhadap kasus tersebut. Tgk Muhib sendiri saat ini dilaporkan sudah diboyong ke RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh guna mendapatkan visum et repertum terhadap luka yang dialami.

Pihak kepolisian mengaku masih mencari tahu siapa pelaku yang menjadi dalang dalam kasus penyerangan tersebut. “Kasus ini masih kita selidiki, sedangkan sebuah balok yang diduga digunakan pelaku untuk menyerang sudah kita amankan di Mapolres,” pungkas Kasat Reskrim Iptu M Riyan Citra Yuda.

 

Kami Dituduh Pacaran

Salah seorang santriwati, SRY, yang juga mendapatkan hukuman mengaku kalau ia bersama 14 rekannya dipukul dan disiram air comberan. Hukuman itu dijatuhkan karena Tgk Muhib menuduhnya berpacaran.

“Kami dikumpulkan. Setelah dipukul, barulah kami disiram air comberan,” katanya sambil memperlihatkan luka lebam di bagian paha kanannya akibat terkena pukulan benda tumpul.

Menurut SRY, kejadian kekerasan seperti itu sudah kerap terjadi di dayah dan menimpa sejumlah santriwati dan santri lainnya. Akan tetapi, baru sekarang masalah itu berani dilaporkan kepada orangtua karena mereka tidak tahan dengan perlakuan dan hukuman yang diterima.

 

Kami tidak Terima

Ernawati (40), orangtua salah satu santriwati kepada wartawan mengaku tidak terima dengan perlakuan kekerasan yang dialami anaknya hanya gara-gara dituduh pacaran.

“Anak kami diberikan ke pesantren ini untuk diberikan ilmu agama, dan bukannya disakiti atau diberikan hukuman kekerasan, apalagi dimandikan air comberan,” tegasnya.

Menurut dia, perlakuan aneh dan takut dari anaknya selama ini itu sudah kerap terlihat. Karena anaknya merasa trauma sepulang dari pesantren. “Kami akan minta pertanggungjawaban terhadap masalah ini, kami tidak terima,” tegas Ernawati.(edi)

dari informasi lain yang Santri Dayah terima, kejadian ini terjadi gara- gara ada masalah lama yang tidak diterima keluarga santriwati tersebut.

 

Harusnya tak Perlu Terjadi

Tgk. Harmen Nuriqmar, Pimpinan Dayah Serambi Mekah, Blang Beurandang, Johan Pahlawan, Aceh Barat.

Pimpinan Dayah Serambi Mekkah, Tgk Harmen Nuriqmar, menyatakan, peristiwa penyerangan orang tua santriwati terhadap salah satu guru di ayah yang dipimpinnya setelah Abuya Nasir Waly meninggal harusnya tak perlu terjadi.

Menurut Tgk Harmen, permasalahan ini semestinya bisa diselesaikan musyawarah dan kekeluargaan, tidak perlu sampai melakukan aksi anarkis sehingga menyebabkan luka parah pada Tgk Muhibbul Nasir Waly, apalagi Tgk. Muhib adalah anak dari pimpinan dayah sendiri.

“Dimandikan air comberan dan mendapatkan hukuman bagi santriwati memang benar, dan hukuman itu diduga diberikan akibat mereka terlibat pacaran,” kata Tgk Harmen. Ia jelaskan, dayah tersebut memiliki aturan tegas terhadap para santri/wati yang melakukan kesalahan, termasuk dengan melakukan tindakan pacaran, karena hal itu berdosa dan dilarang dalam agama.

Terhadap penyelesaian kasus tersebut, Tgk Harmen Nuriqmar mengaku terlebih dahulu akan menyelesaikan persoalan itu secara kekeluargaan dan musyawarah. Namun terhadap aksi anarkis yang terjadi pada seorang guru mengaji dan luka parah, hal itu akan dilihat bagaimana penyelesaian nantinya. “Intinya kami menyesal hal ini bisa terjadi,” pungkasnya. Ia sendiri mengaku saat hukuman terhadap para santriwati itu diberikan tidak sedang berada di tempat.sebut Tgk. Harmen yang kerap di sapa dengan panggilan Waled. [TZ]

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Copyright © 2014 Majalah Santri Dayah. All Rights Reserved.