13 April 2013

Tafsir Jalalain Salah Satu Kitab Populer Di Dunia Pendidikan Islam

Share This
Tags

Kitab Tafsir Jalalain yang menjadi salah satu kitab bacaan wajib (kurikulum) didunia dayah Aceh

Santri Dayah. Com- Tafsir Al-Jalalain adalah salah satu tafsir yang paling luas tersebar di dunia Islam dan yang paling banyak dibaca oleh kalangan ahli ilmu, termasuk para penuntut ilmu di Indonesia, di Aceh salah satunya, kitab tafsir jalalain dijadikan sebagai kurikulum didunia pendidikan dayah. Tafsir ini diakui oleh kalangan ulama sebagai tafsir yang sangat banyak memberikan manfaat. Metode yang di­guna­kan oleh pengarang dalam tafsir ini adalah dengan menyebutkan makna-mak­na dari setiap ayat Al-Qur’an, bersan­dar hanya kepada riwayat yang paling kuat, memberikan catatan tentang ke­dudukan kalimat yang dibutuhkan, dan memberikan penjelasan tentang perbe­daan qiraat pada tempat-tempat yang ter­dapat padanya perbedaan berdasarkan qiraat yang termasyhur. Selain itu, penga­rang juga menghindarkan sama sekali dari bertele-tele dalam penjelasannya, se­hingga setiap penjelasan yang ada benar-benar ungkapan-ungkapam yang dipilih secara cermat dan tepat.

Keistimewaan lain dari kitab tafsir jalalain, bisa dikatakan tidak ditemukan adanya perbedaan pada gaya penafsiran, meski kitab ini ditulis oleh dua orang pakar yang berbeda. Salah seorang ulama mengo­mentari bahwa perbedaan yang dapat ditemukan hanyalah kurang dari sepuluh tempat dari semua uraian tafsir yang me­muat 30 juz dari Al-Qur’an. Ini menunjuk­kan ketepatan dan kecermatan yang luar biasa, baik dari pengarang utamanya, Imam Al-Mahalli, ataupun penerusnya, Imam As-Suyuthi.

Tafsir Jalalain adalah kitab fenomenal dalam perjalanan sejarah keilmuan Islam, khususnya dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Kelugasan bahasa dan metode pe­nyam­­pai­an­nya yang sederhana tak mam­pu meng­halangi ketermasyhuran­nya di te­ngah-tengah ulama yang mu’tabar (men­­dalam dan luas) di dalam keilmuan­nya.

Ketermasyhuran kitab tafsir ini tidak begitu saja lahir sebagai keajaiban se­mata-mata, malainkan juga karena ke­besaran kedua pengarangnya. Yakni, Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Imam Jalaluddin Al-Mahalli

Imam Jalaluddin Al-Mahalli adalah seorang mufassir (ahli tafsir) berkebang­saan Mesir. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad bin Hasyim Al-Mahalli Al-Mishri. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan “Jalaluddin Al-Mahalli”, yang berarti orang yang mempunyai ke­agungan dalam masalah agama. Se­dang­kan, Al-Mahalli dinisbahkan pada kampung kelahirannya, Mahalla Al-Kubra, yang terletak di sebelah barat Kairo, tak jauh dari Sungai Nil.

Imam Jalaluddin Al-Mahalli lahir pada tahun 791 H/1388 M dan wafat pada hari pertama tahun 864 H/1460 M. Ia adalah sosok yang selalu tampil sederhana, jauh dari gemerlap dunia, meski ia juga se­orang pedagang. Imam Al-Mahalli banyak menguasai berbagai disiplin ilmu. Karena itu, selain dikenal sebagai ahli tafsir, ia juga dikenal faqih (ahli dalam bidang hukum Islam), ahli kalam (theologi), ahli ushul fiqh, ahli nahwu (gramatika), dan menguasai mantik (logika).

Dalam menelaah kitab-kitab Islami, Al-Mahalli belajar dan berguru kepada ulama yang termasyhur pada masa itu. Di antaranya Imam Al-Badri Muhammad bin Al-Aqsari, Imam Burhan Al-Baijuri, Imam ‘Ala’ Al-Bukhari, dan Al-’Allamah Syam­suddin Al-Bisathi.

Karena penguasaannya terhadap ber­bagai disiplin ilmu, tak mengherankan jika Al-Mahalli dikenal banyak kalangan. Hingga suatu saat, ia disodori jabatan al-qadhi al-akbar (hakim agung). Namun, jabatan itu ditolaknya. Ia lebih suka men­jadi mudarris fiqh (pengajar fiqih).

Di samping aktif mengajar, Al-Mahalli juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Di antara kitabnya yang ter­masyhur adalah Kanz ar-Raghibin fi Syarh Minhaj al-‘Abidin, al-Badr ath-Thali‘ fi Hall Jam‘ al-Jawami‘, Syarh al-Waraqat, termasuk Tafsir al-Jalalain ini.

 

Imam Jalaluddin As-Suyuthi

Imam Jalaluddin As-Suyuthi banyak mem­perdalam ilmu-ilmu agama dan ba­hasa, mengarang buku-buku ke­susas­traan, juga menaruh perhatian be­sar terhadap sejarah, politik, dan kehidup­an sosial.

Imam As-Suyuthi adalah salah se­orang sastrawan paling terkenal pada abad kelima belas. Ia juga menggeluti segala bidang ilmu. Ia menulis ihwal Al-Qur’an, al-hadits, fiqh, sejarah, bahasa, balaghah, kesusas­tra­an, dan sebagai­nya. Ia sangat cinta pada ilmu. Ia berpin­dah-pindah dari satu pusat pen­didikan ke pusat pendi­dik­an lainnya. Ia telah belajar kepada lebih dari enam ratus guru besar pada zaman­nya di berbagai negara.

Nama lengkapnya adalah Abdur Rah­man bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiq Al-Khudhari As-Suyuthi. Ia di­beri gelar “Jalaluddin”, yang berarti “Yang Mulia”. Ia juga dinamai “Al-Khu­dhari”, karena dinisbahkan kepada Al-Khudha­riyah, nama sebuah tempat di Bagh­dad. Ia pun terkenal dengan nama “As-Su­yuthi”, karena dinisbahkan kepada As-Suyuthi, sebuah tempat asal dan tempat hidup seluruh leluhur, termasuk ayahnya, sebelum berpindah ke Kairo.

Imam As-Suyuthi lahir di Kairo pada tanggal 1 Rajab 849 H/16 Oktober 1445 M. Pada usia kurang dari delapan tahun ia sudah hafal Al-Qur’an seluruhnya. Itu menunjukkan ke­mampuannya dalam ha­falan, yang se­lanjutnya menguatkannya untuk mengha­fal dua ratus ribu hadits, sebagaimana di­nyatakan dalam kitabnya, Tadribur Rawi.

As-Suyuthi belajar fiqih kepada se­orang syaikh yang hidup pada masa itu, yaitu Imam Al-Bulqini. Semasa hidup Al-Bulqini, As-Suyuthi telah mengarang sebuah kitab yang ber­judul Syarh al-Isti’adzah wa al-Basmalah. Kemudian kitab tersebut diperiksa oleh gurunya, Al-Bulqini, dan sang guru pun memujinya serta memberi kata pengantar pada kitab itu.

Pada usia empat puluh tahun, Imam As-Suyuthi berhenti memberikan fatwa dan mengasingkan diri di rumah untuk sepenuhnya mengarang. Ia wafat hari Jum’at pagi 19 Jumadil Ula 911 H/31 Oktober 1505 M, dan dimakamkan di samping makam ayahnya di Kairo, Mesir.

Di antara pujian terhadap keagungan Imam As-Suyuthi, Ibnu Ammar Al-Han­bali pernah berkata, “Beliau adalah san­daran peneliti yang cermat, juga mempu­nyai banyak karangan yang unggul .”

Asy-Syaukani pernah berkata, “Beliau adalah seorang imam besar dalam masa­lah Al-Kitab dan as-sunnah, yang menge­tahui ilmu-ilmu ijtihad dengan sangat luas. As-Suyuthi menguasai semua disiplin ilmu (agama), melampaui teman-teman­nya, namanya terkenal di mana-mana, dan beliau juga telah mengarang banyak kitab yang berguna.”

Tak diragukan lagi, karya-karya Imam As-Suyuthi termasyhur dan dan tersebar di mana-mana. Beraneka ragam ilmu yang ditulisnya. Ia mempunyai andil besar da­lam ilmu hadits, fiqh, Al-Qur’an, ushul, ba­hasa, dan sejarah. Dalam setiap karya­nya, tercermin karakteristik Imam As-Su­yuthi, yang teramat mendalam dan luas ilmu yang dimilikinya. Adapun jumlah kar­yanya mencapai sekitar 600 kitab. Di an­tara karya-karyanya yang termasyhur ada­lah Al-ltqan fi ‘Ulum al- Qur’an, Is’af al-Mub­tha’ fi Rijal al- Muwaththa’, Asma’ al-Mudal­lisin, al-Iklil fi Istinbath at-Tanzil, Tanasuq ad-Durari fi Tanasub as-Suwar, al-Amr bil Ittiba’ wa an-Nahy ‘an al-Ibtida’, al-Hawi li al-Fatawi, al-Asybah wa an-Nazhair. [TF]

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Copyright © 2014 Majalah Santri Dayah. All Rights Reserved.