25 Agustus 2013

Rakyat Suriah Terbantai, Apa Langkah Kita?

Share This
Tags

Dalam foto yang diunggah Reuters, terlihat jelas tubuh-tubuh mungil korban anak-anak itu hanya ditutupi kain di bagian tubuhnya. Agar tidak cepat membusuk, di sekeliling jazad mereka diletakkan es batu. Pada foto lain, terlihat deretan bocah berbalutkan kain kafan. Sedangkan korban yang berhasil selamat, di wajahnya terpasang masker oksigen, untuk membantu mengatasi sesak napas yang menyiksa mereka.

Anak Suriah yang tak berdosa

Santri Dayah.Com, Suriah- Krisis yang terjadi di Mesir sepertinya telah menelan berita tentang krisis yang terjadi di Suriah. Padahal, pertempuran antara pemerintah dan loyalis Presiden Bashar Al-Assad melawan gerakan perlawanan dari pihak oposisi bukannya mereda, malah makin menjadi-jadi.

Hingga kini, diperkiran lebih dari 100.000 orang telah menemui ajalnya akibat pertempuran yang tiada berhenti itu. Belum lagi lebih dari 1.600.000 orang yang terpaksa kehilangan tempat tinggalnya karena harus mengungsi ke wilayah lain agar selembar jiwanya masih bisa menempel di badannya.

Yang mengejutkan, belakangan ini pihak oposisi menuduh rezim Assad telah menggunakan senjata kimia guna mengatasi perlawanan pihak oposisi. Meski datanya sendiri masih diragukan, pada hari Rabu, 21 Agustus 2013, diperkirakan 1.300 orang telah tewas akibat penggunaan senjata kimia Gas Sarin yang dijatuhkan oleh pesawat-pesawat milik rezim Assad. Korbannya, seperti biasa, adalah sipil, yang tak berdosa.

Dalam serangan itu, rudal yang berisi senjata kimia tersebut dijatuhkan di wilayah Ghouta. Sedangkan korban terbanyak berada di distrik Ain Tarma, Zamalka, dan Jobar. Korban-korban yang bergelimpangan merasakan sesak napas karena menghisap gas beracun yang telah dilarang penggunaannya oleh komunitas internasional tersebut. Sedangkan di rumah sakit, ratusan jenazah terlihat berderet dijajarkan.

Dalam foto yang diunggah Reuters, terlihat jelas tubuh-tubuh mungil korban anak-anak itu hanya ditutupi kain di bagian tubuhnya. Agar tidak cepat membusuk, di sekeliling jazad mereka diletakkan es batu. Pada foto lain, terlihat deretan bocah berbalutkan kain kafan. Sedangkan korban yang berhasil selamat, di wajahnya terpasang masker oksigen, untuk membantu mengatasi sesak napas yang menyiksa mereka.

Gas Sarin merupakan agen syaraf buatan manusia, dan awalnya hanya dipergunakan sebagai pestisida di Jerman pada tahun 1938. Sayangnya, agen itu kemudian dikembangkan menjadi senjata pemusnah massal sejak Perang Dunia II. Gas bahan kimia ini adalah racun yang sangat berbahaya, baik dalam bentuk cair maupun gas. Jika terisap manusia, akan menyerang sistem syaraf pusat, dan dapat merenggut jiwa.

Sayangnya, meski telah banyak korban berjatuhan, dan negara ini kini telah menjadi ladang pembantaian, sepertinya komunitas internasional tutup mata dalam hal ini. Langkah nyata untuk menghentikan aksi pembunuhan massal ini tidak pernah dilakukan.

Jika Liga Arab, yang notabene kumpulan negara Islam di Jazirah Arab, hanya menyerukan kepada para pengawas senjata kimia PBB untuk menyelidiki kasus ini, Iran, negara yang selama ini menyatakan diri sebagai pembela Islam paling utama, malah jelas-jelas menyatakan bahwa pemerintah, yang didukungnya, tidak menggunakan senjata kimia ini. Sedangkan PBB hanya bersikeras menyatakan, perlu adanya kejelasan mengenai serangan tersebut. Bahkan menuntut melakukan investigasi yang dilakukan tim mereka pun belum.

Jadi, kapan rakyat Suriah akan merasakan kedamaian? Akankah dunia baru akan bergerak setelah rakyat Suriah musnah? Lalu, apakah langkah kita sebagai umat muslim melihat umat Nabi Muhammad SAW itu saling bantai?[ALK]

Copyright © 2017 Majalah Santri Dayah. All Rights Reserved.