23 Maret 2014

Bersedakah Di Masjid Berbuah Terbebasnya Hutang

Share This
Tags

Santri Dayah.Com- Salmah tahu, Allah akan menggantikan berlipat-lipat dari yang ia sumbangkan. Ia sangat percaya, janji Allah itu benar dan pasti akan ditepati. Nuraninya demikian kuat. Meski sebenarnya ia ingin membuktikan, apakah benar Allah akan menggantinya dengan jumlah berlipat-lipat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar…! Suara adzan isya di bulan Ramadhan 1430 H menggema di seluruh kawasan pusat kota Lhokseumawe. Lebih nyaring dan ke­ras terdengar oleh Salmah, yang baru saja pulang bekerja. Ya, suara adzan ada­lah hiburan lima kali sehari yang se­lalu terdengar oleh Salmah, seorang ga­dis yang ngekos di salah satu sudut kam­pung di Kawasan Simpang Empat,Kota Lhokseumawe. Letak rumah kosnya dengan masjid Islamic Center tidak begitu jauh . Sehingga apa pun kegiatan yang ada di masjid, hampir dipastikan Salmah bisa mendengarnya.

Malam itu, setelah pulang kerja, de­ngan tergesa-gesa ia membersihkan tu­buhnya, berbuka dengan segelas teh ha­ngat dan sepotong kue, ia pun menyam­bar mukenanya. Shalat Maghrib sudah ia laksanakan di kantornya. Tidak lupa ia mengambil uang lima ribuan dari dom­pet warna cokelat yang sudah diper­kira­kan berusia delapan tahun.

“Ah, masa’, nyumbang ke masjid se­lama ini cuma seribu-dua ribu. Itu pun sisa-sisa uang receh ongkos naik ang­kot. Mulai sekarang setiap hari aku akan nyumbang minimal lima ribu,” ujarnya dalam hati berjanji, sambil memasukkan uang dalam kantung gamisnya.

Entah kesadaran dari mana, yang pasti, Salmah merasa ada ketidakadilan masyarakat sekitarnya, terutama di ling­kungan rumah kosnya. Terutama soal sumbang-menyumbang ke masjid, yang biasanya ada kotak amal yang beredar ke jama’ah shalat Tarawih. Salmah mem­perhatikan, ibu-ibu memasukkan sumbangan ke kotak amal jariyah beru­pa uang receh, atau seribuan kucel.

Lalu, hasil sumbangan dari kotak amal jariyah itu setiap malam diumum­kan oleh petugas masjid. Jum­lahnya me­mang selalu ber­tambah, tapi seringnya ti­dak lebih dari seratus ribu setiap ma­lam.

Salmah, yang ter­nyata belakangan se­ring memperhatikan jum­lah saldo mas­jid, dari hari ke hari menjadi miris. Mengapa jama’ah masjid yang sebagian besar rumahnya bagus-bagus tidak me­nyumbang lebih banyak? Termasuk diri­nya?! Meskipun hanya anak kos, sebe­narnya ia mampu menyumbang lebih banyak, karena ia bekerja di perusahaan asing, apalagi di bulan Ramadhan, yang penuh berkah.

***

Ramadhan 1431 H, Salmah masih dengan kegiatannya seperti tahun lalu. Pulang kerja, ia bersiap untuk Tarawih di masjid samping kosnya. Alhamdulillah ada kemajuan dengan masjid tersebut saat itu. Sudah beberapa bulan bela­kangan, masjid itu mulai dibangun kem­bali. Meski terlihat rampung sekitar 50 persen, masjid masih bisa digunakan un­tuk shalat Tarawih warga sekitar.

Kegiatan sumbangan dengan kotak amal masih tetap berlangsung seperti tahun sebelumnya. Diedarkan, kemudi­an diumumkan berapa sumbangan yang diterima masjid malam itu. Salmah masih setia menyumbang lima ribu rupiah se­tiap malam saat Tarawih.

Namun Tarawih tahun ini, Salmah merasakan lebih nyaman berada di mas­jid itu. Meski kubahnya belum selesai, kebersihan masjid membuatnya betah dan bersemangat shalat Tarawih.

Hatinya tersentuh melihat pem­ba­ngun­an masjid itu belum juga selesai. Ia pun tersadar, pembangunan masjid ter­sebut tentunya mem­butuhkan biaya ba­nyak dari jama’ahnya. Maka ia pun ber­janji, malam Tarawih besok­nya ia akan menyum­bang lebih banyak. Apa­lagi ia tahu, Allah akan menggantikan berlipat-lipat dari yang disum­bang­kan. Ia sangat percaya, janji Allah itu benar dan pasti akan ditepati. Nuraninya demikian kuat. Meski sebenarnya ia ingin mem­buktikan, apa­kah benar Allah akan meng­gantinya de­ngan jumlah berlipat-lipat.

Malam Tarawih berikutnya, Salmah menyelipkan uang seratus ribuan warna merah ke dalam kantung gamisnya. Saat kotak amal diedarkan di depannya, ia me­masukkan uang itu dengan menutup­kan tangannya, berharap jama’ah ibu-ibu yang lain tidak melihatnya. Dalam hati Salmah berkata, “Aku ingin hanya Allah dan aku yang tahu berapa rupiah uang yang aku sumbangkan. Ya Allah, aku percaya, engkau akan mengganti uang ini hingga berkali-kali lipat.” Lalu, “Bismillahirrahmanirrahim…,” ucapnya dalam hati sambil memasukkan uang seratus ribuan itu.

Dalam sejarah hidupnya, ia sama se­kali tidak pernah menyumbang demikian banyak. Selain pemahaman agama yang terbilang masih minim, dalam ke­hidupan sehari-hari ia melihat bahwa me­nyumbang itu, ya, sekadarnya, bah­kan sisa-sisa uang receh. Tidak terma­suk dalam rencana anggaran keuang­annya.

Namun, meski hatinya seratus per­sen ikhlas menyumbang untuk renovasi masjid, dalam lubuk hati paling dalam ia berharap bahwa Allah akan membalas­nya.

“Apalagi di bulan Ramadhan ini, amal seseorang pahalanya akan berkali-kali lipat. Semoga saja amalku ini terus meng­alir hingga aku telah meninggal ke­lak,” katanya dalam hati. Salmah menge­tahui, amal seseorang tidak akan terpu­tus hingga dia meninggal dengan ada­nya tiga perkara, seperti yang ia dapat dari pengajian.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Jika anak Adam meninggal, amalnya terpu­tus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih yang berdoa untuk orang­tuanya.’’ (HR Muslim).

Nah, Salmah ingin mendapatkan sa­lah satu dari tiga perkara itu, yaitu se­dekah jariyah.

***

Bulan Ramadhan 1431 H pun ber­lalu, Salmah seperti biasa melakukan kegiatan sehari-hari dan rutinitasnya. Berdesak-desakan di bus untuk menca­pai tempat kerjanya yang terletak di ka­wasan elite.

Beda dari biasanya, setiap hari Sal­mah dengan rajin mengumpulkan sisa-sisa uang kembalian naik bus dan ang­kot di kantung khusus. Ya, dalam hati ia berjanji dalam sehari ia harus bisa mem­beri kepada orang-orang yang membu­tuhkan. Meskipun cuma seribu sehari.

Hingga pada saatnya, ia harus ke rumah salah satu saudaranya, tempat ia meminjam uang beberapa bulan se­belum bulan Ramadhan.

Terbayang olehnya, waktu itu ia ingin membeli rumah di kawasan pinggir kota Lhokseumawe yang terbilang cukup murah. Saat akad kredit, ternyata uang mukanya, Rp 5 juta, harus lunas lebih dulu. Padahal, waktu itu pihak pengembang bilang bah­wa uang muka bisa dicicil. Salmah me­nyangka, uang muka dicicil setiap bulan, sehingga agak ringan. Dari penghasilan per bulannya ia mengkalkulasi bisa mem­bayar uang muka rumah tersebut. Na­mun, uang muka dicicil ya, pembayar­annya beberapa kali, tapi dalam satu bulan. Sedangkan tanggal kapan akad kreditnya ditentukan oleh pihak pengem­bang.

Salmah pun kelimpungan, karena tang­gal akad kredit sudah ditentukan sedangkan uang muka belum lunas. Ti­dak mungkin ia mundur begitu saja, ka­rena sebagian uang muka dan uang tan­da jadi sudah masuk ke pengembang. Kalau ia mundur, uang begitu saja akan hangus dan pembeli yang lain sudah antre siap menggantikannya. Jalan ke­luarnya, ia akhirnya pinjam kepada sau­daranya, Siska, saudara dari pihak ka­kek dari ibunya.

Alhamdulillah, pinjaman itu Salmah dapatkan. Tentu dengan perjanjian, Sal­mah akan membayar secara bertahap setiap bulan. Itu pun jika Salmah sudah siap, maksudnya tidak harus mulai ka­pan. Jika keuangan Salmah longgar, ia akan membayar. Sangat fleksibel sau­daranya itu memberikan kelonggaran waktu pembayaran kepadanya.

Hingga saatnya, Salmah menemui saudaranya itu untuk membayar cicilan pertama kalinya. Ia merasa, bulan itu ada pemasukan lumayan, sehingga ia ber­tekad mencicil membayar utangnya. Saat sudah bertemu dan mengobrol, gi­liran Salmah akan membayarkan utang­nya, apa jawaban saudaranya itu?

“Sudahlah, Mbak, tidak usah dibayar, uang itu saya hadiahkan saja buat Mbak. Mbak kan ingin punya rumah sendiri? Mudah-mudahan uang segitu bisa mem­­bantu, ya…,” ujar Siska lem­but.

“Alhamdulil­lah…. Tapi be­neran nih, Mbak?” tanya Salmah se­tengah tidak per­caya.

Siska mengang­guk dengan mata ber­binar. Tampaknya ia juga sangat se­nang bisa mem­buat saudaranya itu de­mikian gem­bira dan penuh syukur.

“Ya Allah, semoga rizqi Mbak Siska makin bertambah, makin berkah, ya, Mbak…,” doa Salmah sambil mengulur­kan tangan bersalaman dan memeluk erat Siska.

Sampai di rumah, Salmah mere­nung. Allah demikian mudahnya mem­bo­lak-balikkan hati hamba-Nya. Memba­likkan hati saudaranya itu untuk membe­baskan utangnya begitu saja. Tanpa syarat.

“Mungkinkah ini jawaban Allah atas apa yang aku lakukan di bulan puasa beberapa bulan lalu? Ya, Allah… benar, ini benar-benar terjadi. Mana mungkin ini bukan campur tangan-Mu?” Salmah pun ingat dengan uang seratus ribu yang ia sumbangkan ke masjid. Sang Pe­nguasa Alam benar-benar telah menja­wab, menepati janji-Nya, membuktikan bahwa janji-Nya itu adalah benar.

Allah, pemilik alam semesta, mem­perlihatkan kebesaran-Nya. Allah meng­ganti uang seratus ribu itu dengan ber­kali-kali lipat. Bayangkan, uang 100 ribu diganti menjadi 5 juta. Jadi, bila dilipat­gandakan, Allah te­lah meng­ganti hing­ga 50 kali lipat. Ya, 100.000 x 50 = 5.000.000! Ti­dak lama sete­lah Ramadhan berlalu.

Salmah ber­kali-kali mengu­capkan syukur, se­kaligus ber­istigh­far, karena ia sebe­narnya saat itu masih ingin mem­buktikan apa­kah Allah benar-benar akan memba­las sede­kahnya, apakah Allah be­nar-benar akan menggantinya.

Tak terasa air bening mengalir di pipinya. Berkali-kali ia memohon ampun, karena dirinya sempat meragukan janji Allah SWT.

“Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang dhaif ini. Sebenarnya berapa pun Engkau sanggup memberikan balasan kepada hamba-Mu dengan berlipat-lipat sesuai kehendak-Mu. Hanya Engkau yang tahu kebutuhan hamba. Terima kasih, ya, Allah….”(TS)

Copyright © 2017 Majalah Santri Dayah. All Rights Reserved.